HABA SIKULA
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2022

SEJARAH DAN TUJUAN UPACARA BENDERA

Aceh Besar- Upacara Bendera Merah Putih sudah sering kali kita ikuti, mulai upacara senin, peringatan hari besar seperti hari guru nasional, hari pendidikan nasional maupun daerah dan hari memperingati kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus.


Pelaksanaan Upacara Senin SMPN 2 Ingin Jaya

Sejarah Upacara Bendera

Dikutip dari laman Tribunnews.com Menurut sejarah, upacara bendera sudah dilakukan sejak 1292 dan dilakukan oleh tentara kerajaan Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari. Jauh setelah itu, bendera merah putih akhirnya dikibarkan pertama kali di Eropa pada tahun 1922. Namun, bukan bendera merah yang seperti kita kenal sekarang, melainkan bendera merah putih dengan tanda banteng di tengah-tengahnya.

Bendera merah putih baru resmi dikibarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dan diperkenalkan sebagai bendera kebangsaan Indonesia. Upacara bendera indonesia pertama sekali dillaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, yakni hari kemerdekaan indonesia yang terus dilakukan sampai dengan sekarang.

Tujuan Upacara

Menurut Pasal 3 Permendiknas Nomor 22 tahun 2018 tentang Pedoman Upacara Bendera di Sekolah, setidaknya ada 6 tujuan upacara bendera di sekolah, di antaranya sebagai berikut:

1. Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

2. Membiasakan bersikap tertib dan disiplin

3. Meningkatkan kemampuan memimpin

4. Membiasakan kekompakan dan kerjasama

5. Menumbuhkan rasa tanggung jawab

6. Mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air

salah satu point penting dalam pelaksanaan upacara adalah menimbulkan rasa nasionalisme bagi setiap peserta upacara, dan rasa nasionalisme itu menjadi rasa kepemilikan negara ini sehingga memiliki tanggung jawab bersama  dalam menjaga dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gerakan separatis dan teroris serangan ideologis bangsa.


Qasimil Junaidi


Kamis, 22 Juli 2021

SMPN 2 INGIN JAYA LAKSANAKAN QURBAN

 Aceh Besar - Takbir terus bergema pertanda Idul Adha sudah tiba, hari kemenangan bagi umat muslim dibulan zulhijjah atau juga dikenal dengan bulan haji. Dalama bhari raya idul adha ada sebuah sunnah yang sangat besar kemuliaannyaa yaitu berqurban baik dengan seekor kambing, kibas, lembu, kerbau ataupun unta. dalam sejarahnya qurban sudah dimulai semasa nabiyullah Adam, dan kisah yang begitu masyhur ketika Nabi Ibrahim AS hendak menyembelih Nabi Ismail AS yang kemudian digantikan dengan seekor hewan. Berqurban adalah sebuah sunnah Nabi yang terus menerus dilaksanakan oleh umat islam baik dari hari pertama sampai hari tasyriq berakhhir. 

Guru SMPN 2 Ingin jaya melaksanakan qurban yang dilaksanakan kamis (22/7) atau bertepatan hari raya ketiga, seekor lembu yang disembelih menghasilkan 60 kantong daging dengan berat 2kg/bungkus yang dibagikan kepada yang membutuhkan salahsatunya adalah siswa/i SMPN 2 Ingin jaya.

Kepsek didampingi wakasek menyerahkan qurban kepada salahsatu siswa





Secara hukum fiqh menyembelih hewan kurban hukumnya adalah sunah muakkad, yaitu sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Namun, apabila belum mampu untuk membeli hewan ternak, jangan sampai memaksakan diri.

Hal tersebut sesuai dengan QS. Al-Hajj ayat 34 yang berbunyi sebagai berikut:


“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan menyembelih kurban, supaya mereka menyebut nama Allah SWT terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah SWT kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah.”

setiap sesuatu yang telah disyariatkan tentu mengandung manfaat bagi ummat manusia, adapun menfaat berqurban diantaranya:
  • Mendekatkan diri kepada ALLAH
  • Menambah amalan kebaikan
  • Ungkapan rasa syukur
  • Pengampunan dosa
  • menumbuhkan rasa kepedulian sesama
  • Membantu para peternak
  • Meneladani kisah Nabi Ibrahim AS
Semoga bagi yang melaksanakan Qurban diterima segala amalan kebaikan dan yang menerima Qurba dapat manfaatnya, namun bagi yang belum berqurban semoga suatu saat Allah berikan kemudahan rezeki dan bisa menjadi kendaraan dihari akkhirat. Aamiin.



Qasimil Junaidi

Rabu, 12 Mei 2021

''MEUGANG" Titah Sultan Iskandar Muda menjadi Tradisi Masyarakat Aceh

Uroe meugang atau makmeugang adalah hari yang begitu dinanti bagi masyarakat aceh, bagaimana tidak, uroe (hari) meugang merupakan momen yang hanya terjadi tiga kali dalam setahun, yaitu menyambut bulan suci ramadhan, menyambut hari raya idul fitri, dan menyambut hari raya idul adha.

Pada kebiasaanya, meugang ada dua hari, yaitu meugang cut dan makmeugang, meugang cut juga dikenal dengan meugang phon, dan makmeugang hari meugang kedua. sedikit penjelasan meugangcut yaitu meugang yang dilakukan dua hari sebelum bulan puasa atau hari raya, sedangkan makmeugang sehari sebelum hari raya atau puasa

Kondisi Pasar Hari Meugang Ramadhan 2021



Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan Meugang di Aceh dirayakan selama tiga kali setahun, menjelang Ramadan, menjelang Hari Raya Idul Fitri dan menjelang Hari Raya Idul Adha. Pada saat itu, semua rumah warga Aceh memasak daging sebagai menu makan, tak terkecuali. “Harga mahal pun bukan kendala,” katanya.

Meugang di Aceh juga menumbuhkan rasa sosial dan saling membantu. Orang kaya, lembaga, kantor-kantor biasanya akan menyembelih sapi atau kerbau untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Riwayat meugang sejak zaman dulu di Aceh, ditulis peneliti Belanda, C. Snouck Hurgronje dalam bukunya ‘The Achehnese’ yang diterbitkan di Leiden pada 1906. Diebutkan, tiga hari jelang bulan Ramadan, warga Aceh menggelar persiapan-persiapan untuk memastikan bekal makanan saat puasa. Salah satu kebiasaan adalah meugang.

“Muncul kebiasaan adat membeli stok daging di setiap gampong (desa) selama tiga hari pertama sebelum permulaan bulan puasa, masyarakat melakukan pesta daging, dan mengawetkan sisanya dengan garam, cuka dan lain-lain untuk persediaan yang diperkirakan bisa bertahan hingga 15 hari,” tulis Snouck.

Warga Aceh dulunya juga mengelal sistem meuripee (bersama-sama mengumpulkan uang) untuk membeli sapi atau kerbau, untuk disembelih bersama saat meugang. Sebagian daging dibagikan untuk fakir miskin.


Warisan Sultan Iskandar Muda


Dalam sejarah Aceh, meugang pertama kali diperingati saat Sultan Iskandar Muda masih berkuasa memimpin Kesultanan Aceh pada 1607-1636. “Meugang diatur dalam Undang Undang Kerajaan atau disebut Qanun Meukuta Alam Al Asyi,” demikian pernah dikisahkan Badruzzaman Ismail, Sejarawan Aceh.


Kerbau dan sapi dijual di depan Masjid Raya Baiturrahman, Koetaradja (Banda Aceh-sekarang), untuk disembelih di hari meugang, masa kolonial Belanda, 1906.
Foto: Wikipedia/ Tropenmuseum


Saat itu, Aceh dalam kemajuan dan kemakmuran yang dikenal dan diakui negara luar. Sultan Iskandar Muda memerintahkan para Peutua Gampong untuk mendata seberapa banyak warga miskin. Mereka kemudian mendapat jatah daging dari kerajaan, wujud kepedulian Sultan kepada rakyat. Perintah itu kemudian dituangkan dalam aturan hukum.

Kebiasaan terus berlanjut, tahun-tahun selanjutnya berhasil memancing para Ulee Balang dan orang kaya untuk membagi daging di hari meugang. Jatah daging untuk fakir miskin semakin bertambah, kepedulian sesama yang terus terjaga sampai masa perang melawan penjajahan.

Belanda memaklumatkan perang terhadap Aceh 1873, kerajaan tak mampu lagi mengelola meugang, tapi tradisi itu terus berjalan di gampong-gampong. Warga tetap menjalankan kebiasaan itu, yang miskin mendapat bantuan dari yang kaya.


Kata Badruzzaman, meugang bukan sekadar soal makanan. Ada sektor ekonomi yang tumbuh di sana, dimulai dari bergairahnya peternak lembu dan kerbau, sampai pedagang di pasar yang ramai berjualan membuat transaksi ekonomi berjalan sampai lebaran tiba. Daging yang dijual di Aceh pada saat meugang, semuanya produk lokal yang terjamin mutu.


Tradisi ini sarat filosofi, membangun rasa sosial saling berbagi. Sampai kini, orang Aceh masih menjaga meugang, menjaga titah Sultan.


"Jak beurangkahoe jeut, makmeugang beuna di rumoh" adalah sebuah ungkapan pentingnya meugang bagi masyarakat aceh, sejauh apapun engkau merantau, usahakan makmeugang harus ada di rumah, selain daripada tradisi warisan Sultan, meugang adalah momen berkumpul dengan keluarga dihari besar islam bagi masyarakat Aceh










Editor : Qasimil Junaidi


Sumber: https://kumparan.com/acehkini/jejak-tradisi-meugang-di-aceh-berawal-dari-titah-sultan-iskandar-muda-1vXOsXPVKNH/full
 
Copyright © 2014 SMPN 2 INGIN JAYA. Designed by OddThemes